jangan pernah membuat wanita menangis

Image  —  Posted: August 12, 2014 in Uncategorized

Selamat Malam..

Terima kasih telah meluangkan waktu mampir di blog saya🙂
Kali ini saya akan membahas tentang “Cara Menghilangkan Kebencian Terhadap Orang Lain”

Pembaca yang budiman dan pembaca yang bernama Budiman…

Anda mungkin pernah atau sering membenci orang lain. Penyebabnya macam-macam, bisa karena dia pernah menyakiti hati Anda, terlalu menjengkelkan, ngeyel, bicaranya kasar, becandanya nggak kira-kira atau mungkin karena mukanya terlalu jelek menurut Anda.. -_-

Apapun penyebabnya, membenci org lain itu tidak baik dan akan menyiksa hati Anda sendiri. Jadi, sebisa mungkin harus Anda hilangkan secepatnya perasaan itu.

Bagaimana caranya?

Pembaca yang budiman dan pembaca yang bernama Budiman…

Sebelum menjelaskan, ada baiknya saya perkenalkan diri dulu.
Nama saya Don Prahasta, biasa dipanggil Don. Banyak juga yang manggil saya si tampan atau si manis, i dont know why.. Padahal muka saya biasa aja🙂. Temen-temen saya juga bilang saya ini mirip D a r i u s….hehe…😀

Pembaca :”Narsis banget sih..”
Saya :”Masbuloh??”
Pembaca :”Gue paling benci ama orang narsis tau”
Saya :”Nah, kebetulan, tulisan ini cocok buat mas”
Pembaca :”EGP!”
Saya :”Tulisan ini bagus lho, mas ;;) “
Pembaca :”Bodo amat!”
Saya :”Serius mas, baca yaa ;;)”
Pembaca :”Ogah!”
Saya :”Nanti saya doain gak terlalu lama menjomblo deh!”
Pembaca :”Prettt..”
Saya :”Orang pembenci susah dapet pacar lho, mas”
Pembaca : (masa sih)
Saya :”Gimana mas? Mau baca tulisan saya?
Pembaca :……
Saya :”Mas, you there??”
Pembaca : ……
Saya :”Gimana kalau saya kasih hadiah..?”
Pembaca :”Serius??”
Saya :”Iya, nanti hadiahnya ambil di komdak!”
Pembaca :”Zzzzz…”
Saya :”xixixi”
Pembaca :”Kasih pulsa yaa..nanti gue like tulisannya ;)”
Saya : -_-

Pembaca yang budiman dan pembaca yang bernama Budiman…

Membenci orang lain, terlebih orang yang dekat dengan Anda, pasti akan membuat Anda sendiri merasa tidak nyaman saat berhubungan dengannya. Entah hubungan kerja, hubungan keluarga, hubungan teman bermain, atau hubungan sesama jenis.. Eeehh😐
Semakin banyak orang yang Anda benci, semakin sempit ruang gerak Anda. Itu karena hati Anda semakin sesak dipenuhi dengan rasa kebencian.

Pembaca :”Bagaiamana caranya?????? Bertele-tele nih!”
Saya :”Sabar atuh, mas -_- “

Setidaknya ada 2 cara untuk menghilangkan kebencian di hati Anda:
Pertama, coba ingat-ingat apakah orang yang Anda benci tersebut pernah berbuat kebaikan kepada anda sekecil apapun.

Misalnya, memberi contekan PR, tugas kuliah, membantu kerjaan kantor, minjemin uang, minjemin baju, minjemin pacar (huss!!), minyak rambut, deodoran, minyak wangi, lipstik, pembalut, bedak, sisir, dasi, ikat rambut, gunting kuku, sapu, sendal, sepatu, gelas, piring,sendok, garpu, ngucapin ultah.. atau apapun!
Jika pernah, ingat-ingat lah dan hadirkan terus di pikiran Anda.
Lalu, perhatikan apa yang terjadi! (Pak Mario Teguh, saya tiru kalimatnya ya😉

Pembaca :”Bentar boss..”
Saya :”Napa?”
Pembaca :”Tadi bilang katanya you mirip Darius?”
Saya :”Yess..”
Pembaca :”Yang mirip apanya yah????”
Saya :”Mau saya kirimin pulsa gak?!!”
Pembaca :”Iya deh..mirip banget!”
Saya :”Nah gitu dong..”
Pembaca :(dasar narsis gendeng)
Saya :”Ngatain saya gendeng??”
Pembaca :”Gak koq…”
Saya :”Itu tulisan yang dalam kurung..??”
Pembaca :*$#@*^!……

Oke, kita lanjutkan…
Kedua, coba ingat-ingat apakah Anda dan orang yang Anda benci tersebut pernah bersama-sama melakukan hal yang seru, menarik, menegangkan, menyenangkan dan berkesan?
Misalnya, main futsal bareng, makan bareng, naik bis bareng, naik kereta bareng, naik odong-odong bareng, main layang-layang bareng, boneka-bonekaan, petak umpet, karaokean, kerokan, pijitan, cubit-cubitan dan lain-lain.

Jika pernah, cobalah buka kembali kenangan tersebut. Lalu, perhatikan apa yang terjadi!
Pembaca yang budiman dan pembaca yang bernama Budiman…

Saya :”Eh, bentar.. Mas orangnya budiman gak?”
Pembaca :”Au ah…”
Saya :”Mas keknya bukan orang budiman deh..”
Pembaca :”Sekarepmu!”
Saya :”Sorry, berarti gak boleh lanjutin baca tulisan saya..dan gak jadi dapet pulsa juga”
Pembaca :”Koq gitu??”
Saya :”Iya, aturannya gitu..”

Lalu, jika orang yang Anda benci tersebut tidak pernah berbuat baik dan betul-betul baru Anda kenal, bagaimana caranya?
Coba tanya Pak Mario Teguh, mungkin beliau bisa menjawab🙂

Pembaca :”Woi..! Jadi kirim pulsa gak??”
Saya :”Gak jadi ah”
Pembaca :”Gak asik nih!”
Saya :”Btw, nama kamu Budiman bukan?”
Pembaca :”Bukan..”
Saya :”Punya saudara yang namanya Budiman?”
Pembaca :”Gak”
Saya :”Temen?”
Pembaca :”Seinget gw gak ada”
Saya :”Tetangga?
Pembaca :”Tetangga depan gw Pak Jono, belakang Pak Paijo, samping kiri sungai, kanan rawa-rawa”
Saya :”Pernah mengucapkan atau menulis kata “budiman”?”
Pembaca :”Gak pernah tuh!”
Saya :”Hmmmmm”
Pembaca :”Tapi nama gw Sugiman, kan mirip tuh ama Budiman”
Saya :*berpikir keras mode on*
Pembaca :”Gimana??”
Saya :”Okelah..”
Pembaca :”Horeeee !!”
Saya :”Apa sihh.. >_< “

Pembaca yang budiman, pembaca yang bernama Budiman dan yang bernama Sugiman…
Demikianlah tulisan saya kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat😀

Salam damai,

Don Tampan Bingit

Saya penasaran siapa yang pertama kali mengusulkan pare dijadikan makanan/sayuran. Apakah motivasinya sehingga sesuatu yang sepahit itu “dihalalkan” untuk dikonsumsi?

Saya juga penasaran penjual siomay mana yang mencetuskan ide mencampurkan pare dalam dagangannya. Ide paling konyol dan tidak berkeprimanisan. Ide yang selalu memicu kecurigaan kepada abang penjualnya setiap kali saya ingin makan siomay. Jangan-jangan ada parenya, jangan-jangan parenya berbentuk seperti kol atau telor, jangan-jangan parenya dimasukkan ke dalam kentang, dan kecurigaan lainnya.

Saya tahu, meskipun sangat pahit (dan tidak enak tentunya) pare bermanfaat untuk kesehatan tubuh, tapi bukan berarti bisa seenaknya disejajarkan dan disandingkan dengan tahu, siomay, kol, telor, kentang dan lainnya. Pisahlah tersendiri, bila perlu diberi label tulisan besar di atasnya, misalnya “Ini Pahit” atau “Kenangan”.

Dilarang Menghina Presiden

Posted: August 11, 2015 in Uncategorized

Saya setuju dengan adanya usulan pasal penghinaan terhadap presiden. Presiden memang tidak boleh dihina, bagaimanapun tidak sukanya anda akan kebijakannya, cara kerjanya, penampilannya dan sebagainya. Anda boleh membenci, tapi jangan menghujat, apalagi dengan kata-kata kotor, dengan kalimat yang sungguh-sungguh menurunkan kewibawaan seorang presiden.

Presiden harus dijunjung tinggi, setinggi langit di angkasa, jauh lebih tinggi dari pada awan yang tak hujan hujan itu. Bila perlu presiden harus selalu dipuji-puji, sepanjang waktu, setiap hari dari bangun pagi hingga tidur lagi, bahkan dalam mimpi.

Presiden itu jabatan yang mulia tiada tara, tanpa cela. Tolong jangan dihina.

Jika terlanjur terucap, minta maaflah, bilang saja khilaf, bilang saja anda tak seputih kapas dan sebening embun. Jika terlanjur ditulis di medsos atau lainnya, hapuslah, karena kalau sampai beliau membacanya anda bisa dipenjara!

Bayangkan, semua media massa pasti akan menurunkan headline “Karena menghina presiden, seorang pemuda yang hidup menjomblo sekian tahun divonis penjara sekian tahun”. Miris!

Nanti di penjara, anda akan ditempatkan dalam sel yang semuanya pria. Pria-pria yang sangat dahaga, yang semuanya akan melihat anda tampak seperti seorang wanita yang mempesona dan menggairahkan. Huahhh… Habislah anda!

Maka, saya sungguh sangat setuju dengan usulan pasal penghinaan terhadap presiden, karena yang mulia presiden tak boleh dihina. Kalau tak suka simpan dalam hati saja, seperti memendam perasaan sukamu kepada raisa.

Cara Melanggengkan Hubungan

Posted: December 5, 2014 in Uncategorized

Beberapa bulan yang lalu ada yang nanya ke saya bagaimana caranya melanggengkan hubungan..?
“Huh? are you kidding me? Saya aja sering gagal, jangan becanda ahh..”
“Loh? kan justru sering gagal, jadi pasti punya banyak pengalaman dong, jadi banyak tau penyebab kegagalan..” katanya.
Ada benernya juga sih -_-

Baiklah..langsung saja

Setau saya banyak yang awalnya penasaran, terus kenalan, temenan, karena saling merasa nyaman akhirnya jadian.
Setelah sekian bulan mulai muncul kejenuhan, si cowo jadi kurang komunikasi, si cewe jadi curigaan, sering nuntut perhatian, hubungan jadi gak nyaman, then udahannn… Sayang banget ya😥

Berikut mungkin solusinya..mudah-mudahan membantu yaa. Remind me either.

1. Menyikapi kejenuhan
Kejenuhan bisa terjadi pada siapa saja, itu alami. Jangan panik. Beri dia waktu untuk dirinya sendiri.
Mengusik kejenuhan dengan menuntut perhatian justru membuat hubungan jadi gak nyaman.
Biarkan rasa jenuh itu jenuh dengan sendirinya. Atau, beri dia kejutan.

2. Hindari Kecurigaan
Hindari kecurigaan kalau si dia mungkin sedang mendekati orang lain. Think as positive as possible. Prinsipnya sederhana,
kalau dia selingkuh, ya tinggalkan. jangan ditahan-tahan.
Iya, ngomong sih gampang, klo putus sakitnya tuh di sini tauuu (nunjuk hati).
Dari pada dipikirin terus, sakitnya tuh di seluruh badan :p

3. Me Time
Kalau komunikasi mulai jarang, jangan terlalu dirisaukan.
Sambil sesekali kasih kabar ke dia, manfaatkan waktu untuk menyibukan diri sendiri.
Jangan pernah merasa takut kehilangan.

Percayalah, kalau dia memang jodohmu, dia pasti merindukanmu, dia pasti kembali memelukmu😉

Wesss

#eehh

Posted: November 29, 2014 in Uncategorized

Jika nanti tidak dipertemukan

Sayang, tak suka mengekang
Cinta, tak sering cemburu buta
Peduli, tak harus tahu apa yang dilakukan pasanganmu sepanjang hari

Percayai dia saat tak di dekatmu, jangan mencurigai
Kamu boleh memiliki hatinya, bukan kebebasannya
Jangan sering menuntut waktu dan perhatian yang justru membuatnya merasa tak nyaman

Kalau dia selingkuh, tinggalkan
Jangan biarkan dirimu tertekan
Karena seseorang yang baik untukmu itu menenangkan
Bukan malah memberimu banyak beban
di hati dan pikiran

Senyum Karyamin

Posted: July 20, 2014 in Uncategorized

SENYUM KARYAMIN

(Cerpen Karya Ahmad Tohari)

Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalamnn agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun hams dilakukan dengan baik. Karyamin hams memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna.

Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh, lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski dengan lutut yang sudah bergetar, jemari kaki dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan pada pengendalian keseimbangan sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya yang basah. Dan karena pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat maka nadi di lehernya muncul menyembul kulit.

Boleh jadi Karyamin akan selarnat sampai ke atas bila tak ada burung yang nakal. Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di alas air, menyambar seekor ikan kecil, lalu melesal tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.

“Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan. Empat atau lima orang kawan Karyamin terbahak bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

“Sudah, Min. Pulanglah. Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu loyo terus,” kata Sarji yang diam-diam iri pada istri Karyamin yang muda dan gemuk.

“Memang bahaya meninggalkan istrimu seorang diri di rumah. Min, kamu ingat anak-anak muda petugas bank harian itu? Jangan kira mereka hanya datang setiap hari buat menagih setoran kepada istrimu. Jangan percaya kepada anak-anak muda penjual duit itu. Pulanglah. Istrimu kini pasti sedang digodanya.”

“Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang edar kupon buntut itu. Kudengar dia juga sering datang ke rumahmu bila kamu sedang keluar. Apa kamu juga percaya dia datang hanya untuk menjual kupon buntut?. Jangan-jangan dia menjual buntutnya sendi­ri!”

Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi sungai. Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka. Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di permukaan sungai dan bergerak menentang arus karena tertiup angin. Agak di hilir sana terlihat tiga perempuan pulang dari pasar dan siap menyeberang. Para pencari batu itu diam. Mereka senang mencari hiburan dengan cara melihat perempuan yang mengangkat kain tinggi-tinggi.

Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang kedua keranjangnya yang berantakan dan hampa. Angin yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding, meski matahari sudah cukup tinggi. Burung paruh udang kembali melintas di atasnya. Karyamin ingin menyumpahinya, tetapi tiba-tiba rongga matanya penuh bintang. Terasa ada sarang lebah di dalam telinganya. Terdengar bunyi keruyuk dari lambungnya  yang  hanya  berisi  hawa.   Dan  mata  Karyamin menangkap semuanya menjadi kuning berbinar-binar.

Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang menyeberang. Mereka melihat sesuatu yang enak dipandang. Atau sesuatu itu bisa melupakan buat sementara perihnya jemari yang selalu mengais bebatuan; tentang tengkulak yang sudah setengah bulan menghilang dengan membawa satu truk batu yang belum dibayarnya; tentang tukang nasi pecel yang siang nanti pasti datang menagih mereka. Dan tentang nomor buntut yang selalu dan selalu gagal mereka tangkap.

“Min!” teriak Sarji. “Kamu diam saja, apakali kamu tidak melihat ikan putih-putih sebesar palia?”

Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol komenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.

Memang, Karyamin telah berhasil membangun fatamorgana kemenangan dengan senyum dan tawanya. Anehnya, Karyamin merasa demikian terhina oleh burung paruh udang yang bolak-balik melintas di atas kepalanya. Suatu kali, Karyamin ingin membabat burung itu dengan pikulannya. Tetapi niat itu diurungkan karena Karyamin sadar, dengan mata yang berkunang-kunang dia tak akan berhasil melaksanakan maksudnya.

Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika menapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.

“Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”

Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.

“Makan, Min?”

“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”

“Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?”

Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.

“Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”

Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak lagi membencinya karena sadar, burung yang demikian sibuk pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana. Karyamin membayangkan anak-anak si paruh udang sedang meringkuk lemah dalam sarang yang dibangun dalam tanah di sebuah tebing yang terlindung. Angin kembali bertiup. Daun-daun jati beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh ke permukaan sungai. Daun-daun itu selalu saja bergerak menentang arus karena dorongan angin.

“Jadi, kamu sungguh tak mau makan, Min?” tanya Saidah ketika melihat Karyamin bangkit.

“Tidak. Kalau kamu tak tahan melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang-utangku dan kawan-kawan.”

“Iya Min, iya. Tetapi….”

Saidah memutus kata-katanya sendiri karena Karyamin sudah berjalan menjauh. Tetapi Saidah masih sempat melihat Karyamin menoleh kepadanya sambil tersenyum. Saidah pun tersenyum sambil menelan ludah berulang-ulang. Ada yang mengganjal di tenggorokan yang tak berhasil didorongnya ke dalam. Diperhatikannya Karyamin yang berjalan melalui lorong liar sepanjang tepi sungai. Kawan-kawan Karyamin menyeru-nyeru dengan segala macam seloroh cabul. Tetapi Karyamin hanya sekali berhenti dan menoleh sambil melempar senyum.

Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Kar­yamin menangkap sesuatu yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang.

Punggungnya biru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik gerumbul pandan. Ada rasa iri dihati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.

Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Istrinya juga tak perlu dikhawatirkan. Oh ya, Karyamin Ingat hahwa istrinya memang layak dijadikan alasan buat pulang. Semalaman tadi istrinya tak bisa tidur lantaran bisul di puncak pantatnya. “Maka apa salahnya bila aku pulang buat menemani istriku yang meriang.”

Karyamin mencoba berjalan Lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang kunang menyerbu ke dalam rongga matanya. Setelah melintasi titian Karyamin melihat sebutir buah jambu yang masak. Dia ingin memungutnya, tetapi urung karena pada buah itu terlihat jelas bekas gigitan kampret. Dilihatnya juga buah salak berceceran di tanah di sekitar pohonnya. Karyamin memungut sebuah, digigit, lalu dilemparkannya jauh-jauh. Lidahnya seakan terkena air tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah. Dan Kar­yamin terus berjalan. Telinganya mendenging ketika Kar­yamin harus menempuh sebuah tanjakan. Tetapi tak menga­pa, karena di balik tanjakan itulah rumahnya.

Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.

Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Kar­yamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yang sedang menghadapi dua penagih bank harian.

Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap kembali turun. Namun di bawah sana Karyamin melihat seorang lelaki dengan baju batik motif tertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyamin bahwa lelaki itu adalah Pak Pamong.

“Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?”

“Menghindar?”

“Ya. Kamu memang mbeling, Min. Di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau  lebih lama kaupersulit.”

Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar, Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Tetapi Karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang hams dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.

“Kamu menghina aku, Min?”

“Tidak,  Pak. Sungguh tidak.”

“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum? Hayo cepat; mana  uang iranmu?”

Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu kunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kempong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.