Mengejar Mas Mas

Posted: January 26, 2013 in Uncategorized

Ini bukan cerita tentang saya yang sedang mengejar mas mas lho! Ini tentang film…

Bagi yang suka film Indonesia pasti pernah nonton “Mengejar Mas Mas”,  salah satu film yang disutradari oleh Rudy Soedjarwo. Sebenarnya ini termasuk film lama, tahun 2007, tapi tidak ada salahnya kita bahas lagi ^_^

Mengapa judulnya Mengejar Mas Mas? Jawaban yang muncul di benak saya adalah karena setting tempatnya di Jogja. Kalau di Jakarta pasti “Mengejar Abang Abang”, di Bandung “Mengejar Aa Aa”, di Padang “Mengejar Uda Uda”,  dan di dunia lain pasti “Mengejar Uka Uka”. 😐
Tapi Rudy Soedjarwo ternyata punya jawaban sendiri: karena matahari tak perlu dikejar. Kok? Iya, kalau pernah nonton film “Mengejar Matahari” (filmnya Rudy Soedjarwo juga) pasti maklum dengan jawaban sang sutradara tersebut. Memang tidak menjawab pertanyaan di atas 😕  tapi oke lah.

Film ini bercerita tentang Shanaz (Poppy Sovia) gadis Jakarta yang kabur dari rumah
setelah konflik dengan ibunya. Dia memutuskan berangkat ke Jogja menyusul pacarnya yang sedang mendaki gunung di dekat kota gudeg tersebut. Di Jogja Shanaz bertemu dengan Ningsih (Dinna Olivia), seorang pelacur, dan Mas Parno (Dwi Sasono), seorang pengamen. Cerita cinta pun dimulai. Bla bla bla..

Ada dialog yang menjadi petunjuk untuk menemukan benang merah dari pertemuan ketiga tokoh film tersebut, yaitu saat Ningsih bercerita tentang  kisah hidupnya lalu bertanya kepada Shanaz, “Kamu tahu rasanya ditinggal sama orang yang kamu sayangi? Tahu? Rasanya seperti apa?”. Shanaz dengan lirih menjawab, ” KOSONG”.
Ya, Shanaz, Ningsih dan Mas Parno ternyata memiliki kondisi psikologis yang sama. Setelah Shanaz ditinggal ayahnya, Ningsih ditinggal suaminya dan Mas Parno ditinggal adik kesayangannya, mereka menjadi “kosong”.  😦

Seperti lirik lagu  yang dinyanyikan oleh Monty Tiwa yang merupakan OST dari film tersebut berikut ini:

“Pernahkah kau merasa tidak pernah merasa sepi
pernahkah kau merasa tidak pernah merasa sunyi
aku tak pernah
aku selalu merasakannya
kosong…kosong…kosong…. ”

Menurut saya film ini cukup ringan dan lumayan menghibur. Acting pemainnya bagus. Bahkan Dinna Olivia mendapat penghargaan sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia tahun 2007.
Memang pantas, karena melihat ekspresi Dinna Olivia saat menangis di film itu bikin melting 😥  Hayah melting.. >_<

Tentang kekurangannya, ada dua hal yang menganjal di pikiran saya.
Pertama, tidak masuk akal kalau Ibu Shanaz sampai beberapa hari tidak tahu ke mana anaknya kabur. Karena Shanaz masih berkomunikasi dan memberitahu keberadaanya ke teman-teman dan pacarnya. Polisi juga pasti dengan mudah melacaknya. Memang akan jadi panjang ceritanya kalau ditambahin  adegan proses pencarian Shanaz, mungkin juga tidak begitu penting menampilkan bagian itu, tapi setidaknya ada adegan yang menjelaskan ke penonton bahwa Ibu Shanaz tahu di mana anaknya dan berharap supaya cepat kembali pulang.

Kedua, Ningsih terkenal baik dan sangat dekat dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Namun saat masyarakat tahu ternyata profesi Ningsih sebagai pelacur (bukan dosen, seperti pengakuan Ningsih), mereka spontan mengusir, mencaci maki, dan memukulinya. Saya pikir adegan itu terlalu berlebihan. Terlalu didramatisir. Secara psikologis harusnya tidak se-ekstrim itu, terlebih masyarakat Jogja terkenal ramah dan santun. 😛

Terlepas dari kekurangannya secara umum saya nilai film ini enak ditonton, apa lagi kalau dibandingkan dengan film-film horor yang ora nggenah (gak jelas) seperti Tali Pocong Perawan, Setan Budeg, Paku Kuntilanak, Beranak dalam Kubur, mandi dalam kubur, mencuci piring dalam kubur, :lol:, dan film serupa lainnya.

Pesan film:
Pesan dari film ini adalah saat Ningsih diam-diam membawa sepeda onthel Mas Parno ke bengkel untuk  memperbaiki remnya yang blong. Ningsih tidak ingin Mas Parno tahu dia melakukan itu. Ningsih hanya ingin Mas Parno tidak jatuh lagi dari sepedanya. Ningsih tidak mengucapkan “Aku tresno karo kowe” untuk mencurahkan perasaannya. Itulah bahasa cinta Ningsih. Itulah bahasa cinta yang sesungguhnya. 🙂

Mas Don 😎

Advertisements
Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s